Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PMTCT)

Estimasi remaja dan anak‑anak yang terinfeksI HIV pada akhir tahun 2007 adalah sebesar 33,2 miliar orang di dunia. Transmisi maternal kejanin/bayi dapat dicegah bila terdeteksi melalui VCT atau penapisan, perilaku terkendali baik, obat, ANC, maupun pencegahan infeksi, melakukan pemilihan cara melahirkan, pemilihan ASI atau PASI, pemantauan bayi sampai balita, dan mendapatkan dukungan serta perhatian. Transmisi HIV 1 dan HIV 2 memiliki kesamaan rute penularan dari ibu ke janin/bayi, namun HIV 2 (< 10 %) jauh lebih rendah daripada HIV 1 (30 %). Risiko transmisi akan meningkat apabila terjadi kerusakan membran dan CD4 yang rendah.

Pada negara berkembang, 10‑20% berkembang menjadi AIDS selama kurang dari I tahun karena dari penelitian yang dilakukan selama 10 tahun, hampir 50 % ibu tidak minum ARV. Hal itu menyebabkan 80% kematian bayi di bawah umur 2 tahun. Apabila gejala pada tahun pertama terdeteksi maka akan meningkatkan umur survival bayi kurang lebih 3 tahun. Epidemiologi penularan dapat terjadi secara vertikal (95%) melalui saluran plasenta (10%), proses melahirkan (60%), dan pemberian ASI (30%), sexual abuse, transfusi darah, dan keadaan yang tidak dapat dijelaskan seperti kesiapan alat pelindung diri perawat, infeksi nosokomial, pengganti ASI serta penyalahgunaan ilmu klenik dalam seksual.

Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke anak ada dua jenis yaitu maternal dan obstetrik. Pada maternal yaitu viral load yang tinggi (> 5.000 copies/ml), karakteristik virus, CD4 < 200/T, defisiensi imun, infeksi virus, bakteri, parasit, defisiensi vitamin A, penasun, dan banyak pasangan seksual. Seclangkan pada faktor obstetrik yaitu kelahiran per vagina, ketuban pecah dini (KPD) yang terbengkalai, pendarahan intraparturn, chorioamnionitis, prosedur invasif, clan dari segi bayi yaitu prematur, BBLR, ASI dan luka di mulut bayi. Tingkat penerimaan plasma darah HIV RNA berhubungan dengan transmisi kehamilan seperti pada data yang disajikan oleh women and infants transmission study 1990‑1999 yang menunjukkan peningkatan dari 1‑32 %.

Strategi pencegahan transmisi maternal ke janin yaitu dengan mengurangi jumlah ibu hamil dengan HIV (+) melalui kontrasepsi clan pemilihan pasangan, turunkan viral load serendah‑rendahnya melalui terapi ARV, hidup sehat, dan gunakan kondom., meminimalkan paparan janin atau bayi dengan cairan tubuh maternal melalui kelahiran sesar atau minimalkan operasi dan pengganti ASI, serta optimalkan kesehatan bayi dengan ibu HIV (+) melalui pemberian ARV dan pernantauan bayi yang berisiko.

CD4 < 350 cells/mm memiliki persentase transmisi paling besar yaitu 41 % dibandingkan dengan CD4e” 350 cells/mm yaitu 20 %. Akibat dari model penerimaan tersebut yaitu pada pembeclahan sesar, transmisinya lebih kecil (5,7%) dibandingkan dengan kelahiran normal (20%). Operasi sesar merupakan tindakan untuk melindungi diri yang memadai karena dapat mencegah infeksi, cara pembedahan aman, air ketuban tidak mengenai bayi, tidak menggunakan vakum atau forsep, dapat menghisap lendir, dan memiliki cara gunting tali pusat yang berbeda.

Hubungan antara infeksi dini dan infeksi terlambat pada bayi dengan HIV‑1 yaitu pada infeksi dini umur bayi < 2 bulan dapat dideteksi bila terdapat viral load, kelahiran normal, CD4 < 200, bayi prematur, AS), dan pendarahan pada puting susu. Sedangkan pada infeksi yang terlambat dapat dideteksi bila plasma RNA > 43.000, mastitis, clan bisul, pada puting susu. Bayi yang terinfeksi HIV melalui kelahiran normal terjadi melaiui transmisi ke mucosa intestinal bayi. Dampak pada proses menyusui yaitu bahwa pemberian ASI pada umur 12‑24 bulan lebih besar (32,3‑36,7 %) untuk terinfeksi daripada pemberian susu formula (18,2‑20,5 %). Probabilitas transmisi HIVI melalui air susu yaitu 0.00064 per liter dan 0.00028 per hari dari proses menyusui. Satu bayi akan terinfeksi bila menclapatkan ASI 1500 L dan 10 dari 100 anak per tahunnya yang mendapatkan ASI akan terinfeksi. Perempuan HIV (+) sangat direkomendasikan untuk tidak menyusui bayinya. Semakin lama menyusui maka semakin besar risiko penularannya.

Transmisi vertikal hanya dapat terjadi melalui proses menyusui karena dalam ASI mengandung antibiotik dan vaksin yang akan masuk ke dalarn tubuh bayi. Proses terjadinya secara pasti belurn dapat diketahui dengan jelas. Namun virus HIV dalarn darah akan masuk ke ASI sehingga bayi akan tertular HIV melalui jaringan mukosa yang tembus, jaringan limfa, luka di mulut, clan usus. Meskipun masa menyusui bayi dapat mengkonsumsi > 500.000 viron, maka > 25.000 sel yang terinfeksi per hari, sebagian besar tidak menjadi terinfeksi.

Faktor risiko transmisi setelah melahirkan adalah kesehatan dada. Hal ini ditandai dengan adanya sub klinikal penyakit mastitis yang menyebabkan VL tinggi pada dada ibu. Mastitis berhubungan dengan meningkatnya risiko pada transmisi postnatal. Luka pada puting susu dan bisul dada juga berhubungan dengan meningkatnya transmisi.

Keuntungan menyusui yaitu menyediakan banyak nutrisi yang sehat, mudah dicerna, sedikit alergi pada bayi, memberikan proteksi dari penyakit infeksi seperti diare dan pneumonia, infeksi bayi pada proses melahirkan lebih rendah, membantu jarak melahirkan selanjutnya, clan biaya murah. Namun kekurangannya pada ibu HIV (+) yaitu dapat terjadi transmisi HIV dan penyakit infeksi lainnya seperti sitomegalovirus. AS[ dapat digantikan tapi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya yaitu tidak terjadi transmisi HIV dan penyakit infeksi lainnya sedangkan kekurangannya yaitu meningkatkan insiden penyakit diare dan pneumonia, alergi dan intoleran terhadap susu, malnutrisi, dan tidak mendapatkan efek kontrasepsi karena tidak menyusui. Rekomendasi yang diberikan oleh WHO/UNICEF/UNAIDS melalui petunjuk penyusuan bayi yaitu ketika penyusuan dapat dilakukan, dapat terjadi, dapat diterima secara berkesinambungan, dan aman maka untuk semua proses menyusui diperbolehkan. ASI adalah sebuah pilihan yang dapat dilakukan selama 4‑6 bulan dan setelah itu penghentian pemberian ASI harus dilakukan secepatnya. Penghentian pemberian ASI dilakukan saat bayi berumur 6 bulan, mengganti nutrisi alami dengan makanan yang tinggi energi, protein, mikronutrien, kalsium, dan ditambah susu. Selain itu juga perlu dilakukan konseling untuk menyediakan pelayanan dan perhatian yang berjalan untuk ibu dan bayi.

Dalam upaya PMTCT, terdapat empat skenario yang akan dilakukan dan akan disesuaikan dengan keadaan ibu. Pada skenario pertama dibagi menjadi dua jenis yaitu skenario 1 bila sudah ada indikasi ARV untuk ibu (Odha sudah masuk stadium AIDS, atau CD4< 350 sel/ul). ARV akan diberikan setelah trimester 1 (minggu 12‑14) paling lambat minggu 36 yang selanjutnya dilakukan konseling ARV untuk penggunaan seumur hidup dengan regimen AZT (Duviral) dan NVP (Neviral). Pemantauan dilakukan dengan mengukur Hb per 2 minggu penggunaan, dan fungsi hati setiap 2 minggu untuk memantau hepatotoksisitas akibat NVP dan erupsi alergi obat NVP. Pada masa intraparturn, ibu menclapatkan AZT dengan dosis obat lain seperti biasa. Persalinannya seksio dan bayi pasca persalinan tidak mendapat ASI. Bayi juga mendapat AZT mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48‑72 jam.

Pada skenario pertama yang kedua yaitu di mana ibu belum diindikasikan menggunakan ARV,  Odha sudah masuk stadium AIDS, atau CD4 < 350 sel/ul) yaitu dilakukan konseling, pemberian obat AZT dimulai pada minggu ke 28, maksimal minggu ke 36, pernantauan dengan pemeriksaan Hb per 2 minggu untuk memantau anemia karena AZT, pada fase intraparturn ibu mendapatkan AZT per 3 jam dan NVP, clan persalinan dilakukan secara sesar. Pasca persalinan, bayi tidak mendapatkan ASI dan mendapat pengobatan ARV AZT per 6 jam mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP closis tunggal pada usia 48‑72 jam. lbu juga menggunakan ARV selama 7 hari dan setelah itu dihentikan. Selain itu juga harus dilakukan pemantauan CD4 setiap 3 bulan setelah melahirkan.

Pada skenario 2 yaitu Odha hamil yang mendapatkan ARV dan hamil dilakukan dengan melanjutkan terapi ARV dan sebaiknya ditambah AZT, lalu diberikan konseling tentang keuntungan dan risiko ARV pada trimester pertama. Pada skenario 3 yaitu Odha hamil yang datang pada saat persalinan dan belum mendapat ARV yaitu pada fase intraparturn, ibu diberikan AZT per 3 jam, persalinan dilakukan sesar, bayi tidak mendapatkan ASI, clan bayi mendapatkan AZT per 6 jam mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48‑72 jam. Pada fase postpartum, 1bu diberikan ARV selama 7 hari dan sesudah itu ARV dihentikan. Segera setelah persalinan, ibu menjalani pemeriksaan seperti CD4 untuk menentukan apakah ARV akan dilanjutkan seumur hidup. Berbeda dengan skenario 4 yaitu ketika bayi dari ibu Odha datang dalam keadaan postpartum dan tidak minum ARV selama kehamilan, bayi tidak mendapatkan ASI dan diberikan AZT per 6 jam mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48‑72 jam. Selain itu ibu menjalani pemeriksaan CD4 dan pemeriksaan skrining infeksi oportunistik untuk menentukan pengobatan selanjutnya dan apakah sudah mempunyai indikasi penggunaan ARV.

Diagnosis HIV pada bayi dilakukan ketika bayi berusia < 18 bulan dengan melakukan PCR‑RNA HIV pertama pada usia 1 bulan dan viral load kedua pada usia 4‑6 bulan. Diagnosis positif apabila dalam 2 kali pemeriksaan didapatkan hasil positif (terdapat virus HIV > 400 kopi) dan diagnosis negatif apabila dalam 2 kah pemeriksaan didapatkan viral load tidak terdekteksi dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan anti‑H IV E LISA 3 kali dengan reagen yang berbeda pada usia 18 bulan. Bayi berusia > 18 bulan dilakukan pemeriksaan anti­ HIV ELISA 3 kali dengan reagen yang berbeda seperti pada ibu.

Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi ada 4 yaitu ABCD. A adalah abstaince yaitu tidak melakukan hubungan seks bagi orang yang belum menikah. B adalah be faithful yaitu bersikap saling setia hanya pada satu pasangan seks (tidak berganti-­ganti pasangan). C adalah condom yaitu untuk mencegah penularan HIV yang terjadi melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom (bila salah satu dari pasangan tersebut diketahui terinfeksi HIV). D adalah drug no yaitu tidak menggunakan narkoba yang dapat menjadi alur transmisi HIV.

Dr. Yudianto Budi Saroyo, SpOG

Blogger melawan wordpress, menurut anda, siapa yang terbaik ? Mungkin anda berpikir begini, wah gamedewa3 sok tau nih  , gak mencoba wordpress sudah buat post kayak gini, tapi saya sebenarnya sudah mempunyai blog wordpress, ni alamatnya jaringblogger.com. Nah saya telah melakukan penilitian di WordPress dan akhirnya saya menemukan jawabannya .

Note : Yang saya gunakan wordpress.org bukan wordpress.com

Blogger

Kelebihan

1. Hosting gratis
Blogger menawarkan Hosting dengan uptime 100 % , dengan kecepatan yang baik ( server google terdekat kita berada di Singapura ). Normalnya anda perlu membayar jutaan untuk hosting berkualitas yang ditawarkan oleh Google, tapi anda mendapatkannya gratis disini

2. Keamanan yang terjamin
Berbeda dengan WordPress, blog yang menggunakan blogger tidak dapat dikenakan semua serangan yang berakitbat tercurinya akun ( kecuali jika akun google anda dicuri ).

3. Tersambung dengan layanan google lainnya.
Dengan menggunakan akun google, anda dapat menggunakan blogger, youtube, google adsese dll. Anda dapat juga menyambungnya ke blog anda

4. Banyak template berkualitas yang gratis
Berbeda dengan theme wordpress, template blogger banyak yang ditawarkan secara gratis.Meskipun ada yang berbayar, tetapi tetap saja banyak yang menggunakan yang gratis ( Meskipun saya sudah beli template blogger dan theme wordpress, tapi belum dipakai )

5. Newbie friendly
Blogger dapat digunakan oleh semua orang, meskipun orang itu baru terjun di dunia internet

Kekurangan

1. Kurang bebas bereksplorasi
Blogger tidak membebaskan memasukkan kode PHP . Hal ini mungkin bertujuan untuk keamanan tetapi tetap sayang jika tidak dapat memasukkan kode PHP, karena setelah javascript dan css, php merupakan sesuatu yang sangat fital

2. Tampilan kurang menarik
Meskipun banyak template gratis, tetapi tetap saja tampilannya hanya berupa “blog” . anda tidak dapat membangun website one page ( yang hanya terdiri dari 1 halaman ) , atau magezine ( meskipun ada tetapi masih sedikit ).

3. 1 GB untuk gambar
Anda hanya disediakan 1 GB untuk memasukkan gambar di blog anda, karena ini akan masuk ke Google Picasa.

Mitos : Blog anda dimiliki oleh Google bukan anda
Fakta : Memang Google yang memiliki blog anda tetapi anda yang dapat mengatur blog. Maksud Google memiliki blog anda adalah, google yang menawarkan hosting maupun subdomain ( . blogspot.com ) gratis.

WordPress

Ini yang saya gunakan di jaringblogger.com dan mungkin di stopkorupsi.org ( belum saya sambung dengan hosting ). Lalu bagaimana kelebihannya dan kekurangannya ?

Kelebihan

1. CMS yang paling SEO friendly
Melihat gambar diatas, itu merupakan pengaturan saat membuat post dan bagian diatas adalah bagian SEO dari plugin SEO buatan Yoast. ini merupakan salah satu plugin SEO terbaik . WordPress pun dapat mengatur permalinknya menjadi bloganda.com/kategori/judul-post

2. Theme premium banyak bermunculan
Dengan WordPress , anda tidak hanya dapat membuat blog, namun juga website. Banyak theme premium yang tersedia di WordPress. Berikut theme yang saya beli di themeforest.net. Theme ini buat stopkorupsi.org ( moga moga saya dapat pahala , amin )

theme wordpress
Tertarik beli ? silahkan buka di pos di idbloggertrick, harganya sebesar $45

3. Plugin berbayar maupun gratis
Banyak sekali plugin yang dapat anda download atau beli. Dengan plugin tersebut tentu kegiatan blog, share, kemanan , dll terjamin.

Kekurangan.

1. Biaya hosting
Anda harus membayar hosting sebesar 1 juta per tahun jika blog anda masih baru dan bisa lebih sehingga anda harus menyewa VPS ( dengan harga paling kecil $ 20 per bulan ) atau anda dapat menggunakan layanan wordpress.com yang menawarkan hosting gratis ( tapi mendapat pengekangan luar biasa seperti blogger, harus membayar untuk melepaskannya ).

2. Susah mengeditnya
Jika anda sudah pro dalam hal editing kode, ini merupakan bukan kendala yang besar, tapi bagaimana jika masih newbie ? tentu saja sangat bingung. Maka gunakan Blogger sebelum WordPress self hosted ( wordpress.org )

3. Plugin mahal
Jika anda ingin mencari plugin yang digunakan untuk slider, maka anda harus membayarnya dengan harga rata rata $ 20 dan banyak juga yang sudah tidak diupdate oleh developernya sehingga dapat membuat celah keamanan yang berbahaya.

4. Kemanan yang sangat buruk
Diwajibkan untuk menggunakan plugin WP security plugin atau yang lain agar keamanan wordpress setidaknya 90 % . WordPress juga rawan DDos attack dan brute force, maka anda harus rajin mengganti admin dan passwordnya.

 

______________________________

http://www.penasaran.net/?ref=uz7nbs

 

Mundur Untuk Meloncat Lebih Tinggi

Suatu hari seorang murid dan guru berjalan menuruni gunung menuju ke kota, di dalam perjalanan mereka bertemu anak sungai yang aliran airnya tidak terlalu deras, saat itu sang guru melangkahi sungai tersebut dengan sangat mudah, walaupun sungai tersebut cukup lebar.

Sang murid yang melihat gurunya dengan sangat kagum, dan sang guru memintanya untuk mengikuti langkahnya. Sang murid merasa ia tidak mampu melangkahi sungai tersebut hanya dengan satu langkah lebar, maka murid tersebut berjalan mundur dua langkah dan berlari kecil melompati sungai tersebut, hap, sungai itu berhasil dilalui.

Semakin jauh perjalanan mereka, rintangan yang dihadapi pun semakin berat, sang murid mengikuti gurunya di belakang dengan sangat hati-hati.

Tibalah mereka di sebuah jurang yang cukup terjal, namun tidak terlalu lebar. Di ujung jurang tersebut sang guru melangahkan kaki dengan yakin dan langkah pasti yang lebar, sang guru berhasil melangkahkan kakinya di sebrang jurang. Sang murid yang melihatnya sangat terkejut, sang guru pun berkata.

“Ayo melangkahlah menuju sisi jurang ini, lebar jurang ini sama seperti sungai yang kita lalui sebelumnya !”

Sang murid, yang melihat gurunya di sebrang jurang menunjukkan sebuah raut keraguan di wajahnya. Dengan seksama ia perhatikan lebar jurang tersebut, kedalamannya dan melihat ke belakang.

Dengan penuh kepastian ia mengambil lima langkah mundur dan bersiap menyebrangi jurang tersebut dengan berlari dan meloncat sepenuh tenaga, dan sekali lagi perhitungannya tepat. Sang murid berhasil menyebrangi jurang tersebut berkat kecerdikannya.

Sesampainya di sebrang jurang sang guru mengelus lembut kepala muridnya sambil berkata ;
“Wahai muridku, tahukah engaku apa yang membedakan loncatanmu saat di sungai dan di tepi jurang ? Walaupun dengan lebar yang sama, namun kau dapat melihat rintangan yang berbeda dari kedua hal tersebut, karena itu kau mengambil langkah mundur yang lebih banyak saat loncat di tepi jurang untuk memastikan keselamatanmu.

Begitu juga dengan kehidupan, saat tantangan hidup di depanmu lebih besar, kau harus melangkah mundur sedikit lebih banyak agar kita mampu mengatasi segala kemungkinan yang ada dan meloncat lebih tinggi.

Saat kau mengalami suatu kemunduran dalam hidupmu, entah itu kegagalan, jatuh, dikhianati, mungkin itulah langkah mundurmu agar dapat melompat lebih tinggi dan meraih setiap kesuksesanmu.

Kerbau dan Kambing

Seekor kerbau jantan berhasil lolos dari serangan seekor singa dengan cara memasuki sebuah gua dimana gua tersebut sering digunakan oleh kumpulan kambing sebagai tempat berteduh dan menginap saat malam tiba ataupun saat cuaca sedang memburuk. Saat itu hanya satu kambing jantan yang ada di dalam gua tersebut. Saat kerbau masuk kedalam gua, kambing jantan itu menundukkan kepalanya, berlari untuk menabrak kerbau tersebut dengan tanduknya agar kerbau jantan itu keluar dari gua dan dimangsa oleh sang Singa. Kerbau itu hanya tinggal diam melihat tingkah laku sang Kambing. Sedang diluar sana, sang Singa berkeliaran di muka gua mencari mangsanya.

Lalu sang kerbau berkata kepada sang kambing, “Jangan berpikir bahwa saya akan menyerah dan diam saja melihat tingkah lakumu yang pengecut karena saya merasa takut kepadamu. Saat singa itu pergi, saya akan memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan.”

Sangatlah jahat, mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain.

Ya Rabb

Ya Rabb…Jagalah dan peliharalah kami malam ini dalam upaya kami untuk membeningkan hati, dan membersihkan pikiran-pikiran kami…Kuatkan dan upayakanlah kami untuk selalu menyambut segala macam rizqi-Mu,

Ya Rabb…Bahagiakan dan sejahterakanlah kami dan orang-orang yang mencintai kami…
Jadikanlah jiwa yang sempurna, yang ikhlas menerima kekurangan, sebagai perintah untuk menumbuhkan kelebihan, dan menjadikan kekurangan sebagai hiasan terindah keluarga kami……

Ya Rabb….kami amat percaya dan haqqul yakin……..bahwa yang mengasyikkan di dunia ini bukanlah dimana kita berada, melainkan kemana kita menuju….

Terima kasih atas segalanya….Amin Ya Rabb.

Penanganan HIV/AIDS Masih Dikeluhkan

Jakarta, Kompas - Akses layanan kesehatan bagi orang dengan HIV/AIDS masih terbatas. Penanganannya belum menjanjikan pencapaian sasaran yang ditetapkan pemerintah dalam Tujuan Pembangunan Milenium 2015.

Laporan Bappenas tentang Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) 2010 menyebutkan, jumlah infeksi baru masih meningkat meskipun prevalensi HIV/AIDS rendah, yakni 0,17 persen dari semua penduduk.

”HIV/AIDS musuh bersama. Semua, baik pemerintah, dunia usaha, LSM (lembaga swadaya masyarakat), pekerja, maupun unsur masyarakat lain, marilah menanggulangi bersama,” kata Wakil Presiden Boediono pada peringatan Hari AIDS Sedunia, Minggu (27/11), di Silang Monumen Nasional, Jakarta.

Wapres menilai, upaya yang perlu ditingkatkan antara lain memperluas jaringan fasilitas layanan, meningkatkan keikutsertaan publik mencegah dan menangani HIV/AIDS, memperbaiki koordinasi dan tata kelola semua pihak, serta memperbaiki sistem informasi HIV/AIDS.

Laporan Program PBB untuk AIDS menyebutkan, jumlah kematian karena HIV/AIDS di dunia mencapai puncaknya tahun 2005 dengan 2,2 juta kematian. Angka itu turun menjadi 1,8 juta kematian.

Angka kematian menurun. Namun, jumlah orang meninggal akibat AIDS masih 3.000-5.000 orang per tahun (10 orang setiap hari).

Diskriminasi

Di Indonesia, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih merasa didiskriminasikan oleh petugas, pengelola fasilitas kesehatan, dan penyedia asuransi. Anggota Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia, Hussen Basalamah, mengatakan, tak semua rumah sakit mau melayani pengidap HIV/AIDS. ”Banyak petugas kesehatan belum tahu cara menangani orang terinfeksi HIV,” katanya.

Setelah dirujuk, pasien harus menjelaskan kepada penyedia asuransi mengapa harus berobat ke rumah sakit tertentu, bukan rumah sakit yang ditunjuk penyedia asuransi. Mau tak mau mereka harus menjelaskan bahwa mereka terinfeksi HIV.

Hingga kini tak ada asuransi kesehatan swasta yang memberi perlindungan bagi pengidap HIV/AIDS atau keluarganya. Satu-satunya pembiayaan kesehatan yang menanggung perawatan adalah jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas). Namun, praktiknya sering tak sesuai.

”Pertanggungan yang diberikan tergantung pendekatan LSM atau kelompok pendamping kepada dokter rumah sakit/puskesmas dan pengelola jaminan,” kata peneliti Pusat Penelitian HIV/AIDS Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Very Kamil.

Pemahaman keliru tentang HIV/AIDS dan keterbatasan petugas serta sarana kesehatan membuat banyak pemerintah daerah menyerahkan penanganan pengidap langsung ke rumah sakit rujukan tingkat provinsi.

Kelompok produktif

Peringatan Hari AIDS Sedunia kali ini bertema ”Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS”. Menurut Kepala Subdirektorat Pengawasan Norma Kesehatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dedi Adi Gumelar, 88 persen pengidap HIV/AIDS adalah kelompok usia kerja produktif. Separuhya berusia 20-29 tahun. Laki-laki pengidap HIV/AIDS tiga kali lipat dari perempuan.

Kondisi ini mengancam hilangnya sumber daya manusia produktif dan kemiskinan bagi keluarga yang ditanggungnya. Ini terkait langsung dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk miskin. (WHY/MZW)

 

Antara HAM dan HIV

Lima belas tahun terakhir kita menyaksikan kemajuan pesat dalam pengobatan, pencegahan, dan layanan kesehatan untuk orang dengan HIV dan AIDS. Kekhawatiran para ahli delapan tahun lalu bahwa akan muncul ”gelombang kedua” wabah AIDS yang menyapu kawasan Asia dan Pasifik ternyata tidak terjadi. Bahkan laju infeksi menurun 20 persen.

Semua itu tak lepas dari kemajuan di bidang pengobatan. Makin banyak orang dengan HIV/AIDS—lazim disebut ODHA—di Indonesia tetap sehat, kualitas hidup membaik, dan tetap produktif setelah 10 tahun minum obat antiretroviral (ARV) yang disediakan gratis oleh pemerintah. Bahkan, ada yang telah 18 tahun mengonsumsi obat ARV dan tetap sehat hingga hari ini.

Penelitian di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat menunjukkan keberhasilan pengobatan ARV: 77,2 persen ODHA yang minum ARV menunjukkan peningkatan CD4 hingga di atas 200. CD4 adalah penanda di permukaan sel darah putih manusia dan menjadi indikator fungsi kekebalan tubuh. Selanjutnya pada 88,7 persen ODHA kadar virus HIV dalam darahnya tidak terdeteksi lagi. Sementara yang memiliki kualitas hidup dan kondisi psikologis baik masing-masing lebih dari 70 persen.

Tonggak kemajuan

Michel Sidibe, Direktur Eksekutif Badan AIDS PBB (UNAIDS), menyatakan bahwa 2011 adalah tahun istimewa karena titik terang untuk mengakhiri wabah AIDS sudah terlihat jelas. Jutaan orang telah diselamatkan lewat upaya pencegahan penularan dan pengobatan sehingga kita mampu mewujudkan generasi baru yang bebas HIV.

Seharusnya tidak ada lagi bayi lahir dengan HIV dan kita mampu mencegah kematian ibu akibat AIDS. Mengobati dengan ARV lebih dini terbukti mencegah penularan HIV 92-96 persen. Sidibe menyatakan bahwa ”Pengobatan adalah pencegahan.”

Optimisme ini tecermin dalam tema Hari AIDS Sedunia yang diperingati hari ini, 1 Desember 2011, yakni ”Getting to Zero” atau ”Mencapai Nol”. Tema ini terdiri atas tiga subtema, yaitu penghentian penularan, diskriminasi, dan kematian.

Masa depan yang lebih baik sudah di depan mata, tinggal bagaimana kita meningkatkan percepatan penanganan HIV dan AIDS dengan investasi yang pintar. Prasyaratnya ialah komitmen, kepemimpinan, serta upaya yang luar biasa kuat.

Dengan demikian, deklarasi komitmen politik para pemimpin negara dalam KTT AIDS PBB di New York (10 Juni 2011) harus segera diimplementasikan. Komitmen ini menyangkut upaya mengintensifkan penanggulangan HIV/AIDS yang komprehensif di tingkat masyarakat.

Kondisi Indonesia

Kalau jumlah ODHA di seluruh dunia pada akhir 2010 ada 34 juta orang, di Indonesia jumlahnya diperkirakan 300.000 orang. Mengacu pada pernyataan Sidibe bahwa pengobatan adalah pencegahan, kita perlu bekerja keras untuk menemukan kasus ataupun membuka akses kepada ODHA untuk mendapat ARV.

Hingga saat ini kurang dari 30.000 ODHA yang mendapatkan ARV atau kurang dari 10 persen dari estimasi jumlah ODHA. Dengan demikian, masih ada jurang sangat besar antara estimasi dan kasus yang teridentifikasi.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah tes HIV bagi 5 juta-20 juta rakyat Indonesia pada tahun 2012, agar semakin banyak ODHA mendapatkan pengobatan ARV pada tahap dini.

Penanggulangan menjadi penting karena HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis multidimensi: krisis kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan terutama krisis kemanusiaan.

Di Botswana, misalnya, kemajuan pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia hilang begitu saja sekitar 15 tahun lalu. AIDS membuat negara kehilangan banyak tenaga terampil dan terdidik. Upaya Pemerintah Botswana melakukan tes HIV terhadap semua warga negara untuk pengobatan ARV sejak 10 tahun lalu kini mulai memulihkan kondisi sosial ekonomi negara tersebut.

Jika tak memutuskan langkah yang tepat dan segera, bukan mustahil krisis Botswana akan terjadi di sini. Gejalanya sudah tampak dari ancaman HIV/AIDS pada kelompok usia produktif. Data yang tersedia menyebutkan 46,4 persen kasus terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, 31,5 persen pada kelompok 30-39 tahun, dan 9 persen pada kelompok 40-49 tahun.

Oleh karena itu, berbagai upaya perlu diintensifkan. Misalnya, upaya mengurangi penularan seksual, mencegah penularan di kalangan pengguna narkotika, dan mengeliminasi infeksi baru pada anak. Semua berlangsung paralel dengan upaya mencegah kematian akibat tuberkulosis yang saat ini menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.

Apalagi di Indonesia semakin banyak anak menjadi yatim piatu karena HIV/AIDS. Di RS Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) setiap bulan ada 210 bayi dan anak dengan HIV mendapat obat ARV. Angka ini di luar sekitar 1.500 ODHA dewasa laki-laki dan 400 ODHA dewasa perempuan yang berobat jalan ke RSCM setiap bulan.

Tentu keadaan ini amat memprihatinkan. Saat negara-negara lain mulai keluar dari krisis akibat HIV, Indonesia justru baru memasuki krisis.

Perspektif HAM

Berkaca dari pengalaman Botswana dan Afrika Selatan, kita bisa belajar bahwa perspektif HAM sangat penting dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Akses pada tes dan pengobatan serta pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual adalah hak yang harus diberikan kepada semua orang agar terhindar dari risiko penularan dan kematian. HIV dan AIDS tak bisa ”dikunci” hanya pada domain kesehatan. Perspektif HAM mengharuskan kehadiran negara sebagai pihak yang bertanggung jawab agar akses-akses di atas terbuka bagi masyarakat.

Respons terhadap epidemi AIDS harus tecermin pada perubahan perilaku, baik perseorangan maupun institusional. AIDS menyerang semua lapisan masyarakat: berpendidikan tinggi ataupun rendah, orang tua, remaja dan anak anak, buruh, petani, dokter, wartawan, pejabat, selebritas, kaya ataupun miskin.

Advokasi bersama untuk masyarakat yang tak bisa menyuarakan kebutuhannya sangat diperlukan, utamanya untuk membuka akses universal terhadap pengobatan, pencegahan dan dukungan. Perlu perjuangan untuk menegakkan keadilan sosial dan mendistribusikan sumber daya.

Zubairi Djoerban Manajer Pusat Layanan HIV Terpadu RSCM; Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia

Pendakian Gn. Gede Pangrango

Saat pagi yang cerah, mempersiapkan diri untuk melakukan pendakian Gunung Gede Pangrango. Tim terdiri dari Dokter, Perawat, Kondelor dan ODHA.

Senyum Optimis selalu menyapa wajah-wajah mereka, meski perjalanan menuju Camp Kandang badak bisa di capai sekitar 8 Jam, namun semangat dan keceriaan selalu menghampiri seluruh tim pendakian.

Tiba di Panyangcangan sekitar pukul 09.00 tim melakukan istirahat sekitarSetengah perjalanan menuju camp kandang badak 30 menit untuk menarik nafas dan menyiapkan tenaga untuk melakukan pendakian selanjutnya. meski dalam keadaan yang melelahkan, temen-temen tetap asyik bercanda bisa menikmati pemandangan alam gede pangrango yang indah.

Akhirnya kami sampai di camp kandang badak. tim bercamping dan menginap untuk melepaskan lelah setelah seharian melakukan pendakian untuk menghimpun tenaga besok menuju puncak Gede.

Nampak beberapa tenda terpasang di sekitar Kandang Badak. ada beberapa tim pendakian yang datang dari berbagai daerah seperti Bandung, bogor, Jakarta, cianjur, bahkan ada yang sengaja dari luar jawa yang ingin menikmati petualangan di Gunung Gede Pangrango.

 

akhirnya kita hampir samapi di puncak gede,  pemandangan yang indah bisa kami nikmati. perjalanan yang panjang melelahklan seolah hilang setelah melihat pemandangan di atas gunung gede yang luar biasa.

Anda musti mencoba…..