Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PMTCT)
Estimasi remaja dan anak‑anak yang terinfeksI HIV pada akhir tahun 2007 adalah sebesar 33,2 miliar orang di dunia. Transmisi maternal kejanin/bayi dapat dicegah bila terdeteksi melalui VCT atau penapisan, perilaku terkendali baik, obat, ANC, maupun pencegahan infeksi, melakukan pemilihan cara melahirkan, pemilihan ASI atau PASI, pemantauan bayi sampai balita, dan mendapatkan dukungan serta perhatian. Transmisi HIV 1 dan HIV 2 memiliki kesamaan rute penularan dari ibu ke janin/bayi, namun HIV 2 (< 10 %) jauh lebih rendah daripada HIV 1 (30 %). Risiko transmisi akan meningkat apabila terjadi kerusakan membran dan CD4 yang rendah.
Pada negara berkembang, 10‑20% berkembang menjadi AIDS selama kurang dari I tahun karena dari penelitian yang dilakukan selama 10 tahun, hampir 50 % ibu tidak minum ARV. Hal itu menyebabkan 80% kematian bayi di bawah umur 2 tahun. Apabila gejala pada tahun pertama terdeteksi maka akan meningkatkan umur survival bayi kurang lebih 3 tahun. Epidemiologi penularan dapat terjadi secara vertikal (95%) melalui saluran plasenta (10%), proses melahirkan (60%), dan pemberian ASI (30%), sexual abuse, transfusi darah, dan keadaan yang tidak dapat dijelaskan seperti kesiapan alat pelindung diri perawat, infeksi nosokomial, pengganti ASI serta penyalahgunaan ilmu klenik dalam seksual.
Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke anak ada dua jenis yaitu maternal dan obstetrik. Pada maternal yaitu viral load yang tinggi (> 5.000 copies/ml), karakteristik virus, CD4 < 200/T, defisiensi imun, infeksi virus, bakteri, parasit, defisiensi vitamin A, penasun, dan banyak pasangan seksual. Seclangkan pada faktor obstetrik yaitu kelahiran per vagina, ketuban pecah dini (KPD) yang terbengkalai, pendarahan intraparturn, chorioamnionitis, prosedur invasif, clan dari segi bayi yaitu prematur, BBLR, ASI dan luka di mulut bayi. Tingkat penerimaan plasma darah HIV RNA berhubungan dengan transmisi kehamilan seperti pada data yang disajikan oleh women and infants transmission study 1990‑1999 yang menunjukkan peningkatan dari 1‑32 %.
Strategi pencegahan transmisi maternal ke janin yaitu dengan mengurangi jumlah ibu hamil dengan HIV (+) melalui kontrasepsi clan pemilihan pasangan, turunkan viral load serendah‑rendahnya melalui terapi ARV, hidup sehat, dan gunakan kondom., meminimalkan paparan janin atau bayi dengan cairan tubuh maternal melalui kelahiran sesar atau minimalkan operasi dan pengganti ASI, serta optimalkan kesehatan bayi dengan ibu HIV (+) melalui pemberian ARV dan pernantauan bayi yang berisiko.
CD4 < 350 cells/mm memiliki persentase transmisi paling besar yaitu 41 % dibandingkan dengan CD4e” 350 cells/mm yaitu 20 %. Akibat dari model penerimaan tersebut yaitu pada pembeclahan sesar, transmisinya lebih kecil (5,7%) dibandingkan dengan kelahiran normal (20%). Operasi sesar merupakan tindakan untuk melindungi diri yang memadai karena dapat mencegah infeksi, cara pembedahan aman, air ketuban tidak mengenai bayi, tidak menggunakan vakum atau forsep, dapat menghisap lendir, dan memiliki cara gunting tali pusat yang berbeda.
Hubungan antara infeksi dini dan infeksi terlambat pada bayi dengan HIV‑1 yaitu pada infeksi dini umur bayi < 2 bulan dapat dideteksi bila terdapat viral load, kelahiran normal, CD4 < 200, bayi prematur, AS), dan pendarahan pada puting susu. Sedangkan pada infeksi yang terlambat dapat dideteksi bila plasma RNA > 43.000, mastitis, clan bisul, pada puting susu. Bayi yang terinfeksi HIV melalui kelahiran normal terjadi melaiui transmisi ke mucosa intestinal bayi. Dampak pada proses menyusui yaitu bahwa pemberian ASI pada umur 12‑24 bulan lebih besar (32,3‑36,7 %) untuk terinfeksi daripada pemberian susu formula (18,2‑20,5 %). Probabilitas transmisi HIVI melalui air susu yaitu 0.00064 per liter dan 0.00028 per hari dari proses menyusui. Satu bayi akan terinfeksi bila menclapatkan ASI 1500 L dan 10 dari 100 anak per tahunnya yang mendapatkan ASI akan terinfeksi. Perempuan HIV (+) sangat direkomendasikan untuk tidak menyusui bayinya. Semakin lama menyusui maka semakin besar risiko penularannya.
Transmisi vertikal hanya dapat terjadi melalui proses menyusui karena dalam ASI mengandung antibiotik dan vaksin yang akan masuk ke dalarn tubuh bayi. Proses terjadinya secara pasti belurn dapat diketahui dengan jelas. Namun virus HIV dalarn darah akan masuk ke ASI sehingga bayi akan tertular HIV melalui jaringan mukosa yang tembus, jaringan limfa, luka di mulut, clan usus. Meskipun masa menyusui bayi dapat mengkonsumsi > 500.000 viron, maka > 25.000 sel yang terinfeksi per hari, sebagian besar tidak menjadi terinfeksi.
Faktor risiko transmisi setelah melahirkan adalah kesehatan dada. Hal ini ditandai dengan adanya sub klinikal penyakit mastitis yang menyebabkan VL tinggi pada dada ibu. Mastitis berhubungan dengan meningkatnya risiko pada transmisi postnatal. Luka pada puting susu dan bisul dada juga berhubungan dengan meningkatnya transmisi.
Keuntungan menyusui yaitu menyediakan banyak nutrisi yang sehat, mudah dicerna, sedikit alergi pada bayi, memberikan proteksi dari penyakit infeksi seperti diare dan pneumonia, infeksi bayi pada proses melahirkan lebih rendah, membantu jarak melahirkan selanjutnya, clan biaya murah. Namun kekurangannya pada ibu HIV (+) yaitu dapat terjadi transmisi HIV dan penyakit infeksi lainnya seperti sitomegalovirus. AS[ dapat digantikan tapi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya yaitu tidak terjadi transmisi HIV dan penyakit infeksi lainnya sedangkan kekurangannya yaitu meningkatkan insiden penyakit diare dan pneumonia, alergi dan intoleran terhadap susu, malnutrisi, dan tidak mendapatkan efek kontrasepsi karena tidak menyusui. Rekomendasi yang diberikan oleh WHO/UNICEF/UNAIDS melalui petunjuk penyusuan bayi yaitu ketika penyusuan dapat dilakukan, dapat terjadi, dapat diterima secara berkesinambungan, dan aman maka untuk semua proses menyusui diperbolehkan. ASI adalah sebuah pilihan yang dapat dilakukan selama 4‑6 bulan dan setelah itu penghentian pemberian ASI harus dilakukan secepatnya. Penghentian pemberian ASI dilakukan saat bayi berumur 6 bulan, mengganti nutrisi alami dengan makanan yang tinggi energi, protein, mikronutrien, kalsium, dan ditambah susu. Selain itu juga perlu dilakukan konseling untuk menyediakan pelayanan dan perhatian yang berjalan untuk ibu dan bayi.
Dalam upaya PMTCT, terdapat empat skenario yang akan dilakukan dan akan disesuaikan dengan keadaan ibu. Pada skenario pertama dibagi menjadi dua jenis yaitu skenario 1 bila sudah ada indikasi ARV untuk ibu (Odha sudah masuk stadium AIDS, atau CD4< 350 sel/ul). ARV akan diberikan setelah trimester 1 (minggu 12‑14) paling lambat minggu 36 yang selanjutnya dilakukan konseling ARV untuk penggunaan seumur hidup dengan regimen AZT (Duviral) dan NVP (Neviral). Pemantauan dilakukan dengan mengukur Hb per 2 minggu penggunaan, dan fungsi hati setiap 2 minggu untuk memantau hepatotoksisitas akibat NVP dan erupsi alergi obat NVP. Pada masa intraparturn, ibu menclapatkan AZT dengan dosis obat lain seperti biasa. Persalinannya seksio dan bayi pasca persalinan tidak mendapat ASI. Bayi juga mendapat AZT mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48‑72 jam.
Pada skenario pertama yang kedua yaitu di mana ibu belum diindikasikan menggunakan ARV, Odha sudah masuk stadium AIDS, atau CD4 < 350 sel/ul) yaitu dilakukan konseling, pemberian obat AZT dimulai pada minggu ke 28, maksimal minggu ke 36, pernantauan dengan pemeriksaan Hb per 2 minggu untuk memantau anemia karena AZT, pada fase intraparturn ibu mendapatkan AZT per 3 jam dan NVP, clan persalinan dilakukan secara sesar. Pasca persalinan, bayi tidak mendapatkan ASI dan mendapat pengobatan ARV AZT per 6 jam mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP closis tunggal pada usia 48‑72 jam. lbu juga menggunakan ARV selama 7 hari dan setelah itu dihentikan. Selain itu juga harus dilakukan pemantauan CD4 setiap 3 bulan setelah melahirkan.
Pada skenario 2 yaitu Odha hamil yang mendapatkan ARV dan hamil dilakukan dengan melanjutkan terapi ARV dan sebaiknya ditambah AZT, lalu diberikan konseling tentang keuntungan dan risiko ARV pada trimester pertama. Pada skenario 3 yaitu Odha hamil yang datang pada saat persalinan dan belum mendapat ARV yaitu pada fase intraparturn, ibu diberikan AZT per 3 jam, persalinan dilakukan sesar, bayi tidak mendapatkan ASI, clan bayi mendapatkan AZT per 6 jam mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48‑72 jam. Pada fase postpartum, 1bu diberikan ARV selama 7 hari dan sesudah itu ARV dihentikan. Segera setelah persalinan, ibu menjalani pemeriksaan seperti CD4 untuk menentukan apakah ARV akan dilanjutkan seumur hidup. Berbeda dengan skenario 4 yaitu ketika bayi dari ibu Odha datang dalam keadaan postpartum dan tidak minum ARV selama kehamilan, bayi tidak mendapatkan ASI dan diberikan AZT per 6 jam mulai usia 6 jam sampai 6 minggu dan NVP dosis tunggal pada usia 48‑72 jam. Selain itu ibu menjalani pemeriksaan CD4 dan pemeriksaan skrining infeksi oportunistik untuk menentukan pengobatan selanjutnya dan apakah sudah mempunyai indikasi penggunaan ARV.
Diagnosis HIV pada bayi dilakukan ketika bayi berusia < 18 bulan dengan melakukan PCR‑RNA HIV pertama pada usia 1 bulan dan viral load kedua pada usia 4‑6 bulan. Diagnosis positif apabila dalam 2 kali pemeriksaan didapatkan hasil positif (terdapat virus HIV > 400 kopi) dan diagnosis negatif apabila dalam 2 kah pemeriksaan didapatkan viral load tidak terdekteksi dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan anti‑H IV E LISA 3 kali dengan reagen yang berbeda pada usia 18 bulan. Bayi berusia > 18 bulan dilakukan pemeriksaan anti HIV ELISA 3 kali dengan reagen yang berbeda seperti pada ibu.
Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi ada 4 yaitu ABCD. A adalah abstaince yaitu tidak melakukan hubungan seks bagi orang yang belum menikah. B adalah be faithful yaitu bersikap saling setia hanya pada satu pasangan seks (tidak berganti-ganti pasangan). C adalah condom yaitu untuk mencegah penularan HIV yang terjadi melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom (bila salah satu dari pasangan tersebut diketahui terinfeksi HIV). D adalah drug no yaitu tidak menggunakan narkoba yang dapat menjadi alur transmisi HIV.
Dr. Yudianto Budi Saroyo, SpOG
Penanganan HIV/AIDS Masih Dikeluhkan
Jakarta, Kompas - Akses layanan kesehatan bagi orang dengan HIV/AIDS masih terbatas. Penanganannya belum menjanjikan pencapaian sasaran yang ditetapkan pemerintah dalam Tujuan Pembangunan Milenium 2015.
Laporan Bappenas tentang Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) 2010 menyebutkan, jumlah infeksi baru masih meningkat meskipun prevalensi HIV/AIDS rendah, yakni 0,17 persen dari semua penduduk.
”HIV/AIDS musuh bersama. Semua, baik pemerintah, dunia usaha, LSM (lembaga swadaya masyarakat), pekerja, maupun unsur masyarakat lain, marilah menanggulangi bersama,” kata Wakil Presiden Boediono pada peringatan Hari AIDS Sedunia, Minggu (27/11), di Silang Monumen Nasional, Jakarta.
Wapres menilai, upaya yang perlu ditingkatkan antara lain memperluas jaringan fasilitas layanan, meningkatkan keikutsertaan publik mencegah dan menangani HIV/AIDS, memperbaiki koordinasi dan tata kelola semua pihak, serta memperbaiki sistem informasi HIV/AIDS.
Laporan Program PBB untuk AIDS menyebutkan, jumlah kematian karena HIV/AIDS di dunia mencapai puncaknya tahun 2005 dengan 2,2 juta kematian. Angka itu turun menjadi 1,8 juta kematian.
Angka kematian menurun. Namun, jumlah orang meninggal akibat AIDS masih 3.000-5.000 orang per tahun (10 orang setiap hari).
Diskriminasi
Di Indonesia, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih merasa didiskriminasikan oleh petugas, pengelola fasilitas kesehatan, dan penyedia asuransi. Anggota Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia, Hussen Basalamah, mengatakan, tak semua rumah sakit mau melayani pengidap HIV/AIDS. ”Banyak petugas kesehatan belum tahu cara menangani orang terinfeksi HIV,” katanya.
Setelah dirujuk, pasien harus menjelaskan kepada penyedia asuransi mengapa harus berobat ke rumah sakit tertentu, bukan rumah sakit yang ditunjuk penyedia asuransi. Mau tak mau mereka harus menjelaskan bahwa mereka terinfeksi HIV.
Hingga kini tak ada asuransi kesehatan swasta yang memberi perlindungan bagi pengidap HIV/AIDS atau keluarganya. Satu-satunya pembiayaan kesehatan yang menanggung perawatan adalah jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas). Namun, praktiknya sering tak sesuai.
”Pertanggungan yang diberikan tergantung pendekatan LSM atau kelompok pendamping kepada dokter rumah sakit/puskesmas dan pengelola jaminan,” kata peneliti Pusat Penelitian HIV/AIDS Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Very Kamil.
Pemahaman keliru tentang HIV/AIDS dan keterbatasan petugas serta sarana kesehatan membuat banyak pemerintah daerah menyerahkan penanganan pengidap langsung ke rumah sakit rujukan tingkat provinsi.
Kelompok produktif
Peringatan Hari AIDS Sedunia kali ini bertema ”Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS”. Menurut Kepala Subdirektorat Pengawasan Norma Kesehatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dedi Adi Gumelar, 88 persen pengidap HIV/AIDS adalah kelompok usia kerja produktif. Separuhya berusia 20-29 tahun. Laki-laki pengidap HIV/AIDS tiga kali lipat dari perempuan.
Kondisi ini mengancam hilangnya sumber daya manusia produktif dan kemiskinan bagi keluarga yang ditanggungnya. Ini terkait langsung dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk miskin. (WHY/MZW)
Antara HAM dan HIV
Lima belas tahun terakhir kita menyaksikan kemajuan pesat dalam pengobatan, pencegahan, dan layanan kesehatan untuk orang dengan HIV dan AIDS. Kekhawatiran para ahli delapan tahun lalu bahwa akan muncul ”gelombang kedua” wabah AIDS yang menyapu kawasan Asia dan Pasifik ternyata tidak terjadi. Bahkan laju infeksi menurun 20 persen.
Semua itu tak lepas dari kemajuan di bidang pengobatan. Makin banyak orang dengan HIV/AIDS—lazim disebut ODHA—di Indonesia tetap sehat, kualitas hidup membaik, dan tetap produktif setelah 10 tahun minum obat antiretroviral (ARV) yang disediakan gratis oleh pemerintah. Bahkan, ada yang telah 18 tahun mengonsumsi obat ARV dan tetap sehat hingga hari ini.
Penelitian di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat menunjukkan keberhasilan pengobatan ARV: 77,2 persen ODHA yang minum ARV menunjukkan peningkatan CD4 hingga di atas 200. CD4 adalah penanda di permukaan sel darah putih manusia dan menjadi indikator fungsi kekebalan tubuh. Selanjutnya pada 88,7 persen ODHA kadar virus HIV dalam darahnya tidak terdeteksi lagi. Sementara yang memiliki kualitas hidup dan kondisi psikologis baik masing-masing lebih dari 70 persen.
Tonggak kemajuan
Michel Sidibe, Direktur Eksekutif Badan AIDS PBB (UNAIDS), menyatakan bahwa 2011 adalah tahun istimewa karena titik terang untuk mengakhiri wabah AIDS sudah terlihat jelas. Jutaan orang telah diselamatkan lewat upaya pencegahan penularan dan pengobatan sehingga kita mampu mewujudkan generasi baru yang bebas HIV.
Seharusnya tidak ada lagi bayi lahir dengan HIV dan kita mampu mencegah kematian ibu akibat AIDS. Mengobati dengan ARV lebih dini terbukti mencegah penularan HIV 92-96 persen. Sidibe menyatakan bahwa ”Pengobatan adalah pencegahan.”
Optimisme ini tecermin dalam tema Hari AIDS Sedunia yang diperingati hari ini, 1 Desember 2011, yakni ”Getting to Zero” atau ”Mencapai Nol”. Tema ini terdiri atas tiga subtema, yaitu penghentian penularan, diskriminasi, dan kematian.
Masa depan yang lebih baik sudah di depan mata, tinggal bagaimana kita meningkatkan percepatan penanganan HIV dan AIDS dengan investasi yang pintar. Prasyaratnya ialah komitmen, kepemimpinan, serta upaya yang luar biasa kuat.
Dengan demikian, deklarasi komitmen politik para pemimpin negara dalam KTT AIDS PBB di New York (10 Juni 2011) harus segera diimplementasikan. Komitmen ini menyangkut upaya mengintensifkan penanggulangan HIV/AIDS yang komprehensif di tingkat masyarakat.
Kondisi Indonesia
Kalau jumlah ODHA di seluruh dunia pada akhir 2010 ada 34 juta orang, di Indonesia jumlahnya diperkirakan 300.000 orang. Mengacu pada pernyataan Sidibe bahwa pengobatan adalah pencegahan, kita perlu bekerja keras untuk menemukan kasus ataupun membuka akses kepada ODHA untuk mendapat ARV.
Hingga saat ini kurang dari 30.000 ODHA yang mendapatkan ARV atau kurang dari 10 persen dari estimasi jumlah ODHA. Dengan demikian, masih ada jurang sangat besar antara estimasi dan kasus yang teridentifikasi.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah tes HIV bagi 5 juta-20 juta rakyat Indonesia pada tahun 2012, agar semakin banyak ODHA mendapatkan pengobatan ARV pada tahap dini.
Penanggulangan menjadi penting karena HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis multidimensi: krisis kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan terutama krisis kemanusiaan.
Di Botswana, misalnya, kemajuan pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia hilang begitu saja sekitar 15 tahun lalu. AIDS membuat negara kehilangan banyak tenaga terampil dan terdidik. Upaya Pemerintah Botswana melakukan tes HIV terhadap semua warga negara untuk pengobatan ARV sejak 10 tahun lalu kini mulai memulihkan kondisi sosial ekonomi negara tersebut.
Jika tak memutuskan langkah yang tepat dan segera, bukan mustahil krisis Botswana akan terjadi di sini. Gejalanya sudah tampak dari ancaman HIV/AIDS pada kelompok usia produktif. Data yang tersedia menyebutkan 46,4 persen kasus terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, 31,5 persen pada kelompok 30-39 tahun, dan 9 persen pada kelompok 40-49 tahun.
Oleh karena itu, berbagai upaya perlu diintensifkan. Misalnya, upaya mengurangi penularan seksual, mencegah penularan di kalangan pengguna narkotika, dan mengeliminasi infeksi baru pada anak. Semua berlangsung paralel dengan upaya mencegah kematian akibat tuberkulosis yang saat ini menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.
Apalagi di Indonesia semakin banyak anak menjadi yatim piatu karena HIV/AIDS. Di RS Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) setiap bulan ada 210 bayi dan anak dengan HIV mendapat obat ARV. Angka ini di luar sekitar 1.500 ODHA dewasa laki-laki dan 400 ODHA dewasa perempuan yang berobat jalan ke RSCM setiap bulan.
Tentu keadaan ini amat memprihatinkan. Saat negara-negara lain mulai keluar dari krisis akibat HIV, Indonesia justru baru memasuki krisis.
Perspektif HAM
Berkaca dari pengalaman Botswana dan Afrika Selatan, kita bisa belajar bahwa perspektif HAM sangat penting dalam penanggulangan HIV/AIDS.
Akses pada tes dan pengobatan serta pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual adalah hak yang harus diberikan kepada semua orang agar terhindar dari risiko penularan dan kematian. HIV dan AIDS tak bisa ”dikunci” hanya pada domain kesehatan. Perspektif HAM mengharuskan kehadiran negara sebagai pihak yang bertanggung jawab agar akses-akses di atas terbuka bagi masyarakat.
Respons terhadap epidemi AIDS harus tecermin pada perubahan perilaku, baik perseorangan maupun institusional. AIDS menyerang semua lapisan masyarakat: berpendidikan tinggi ataupun rendah, orang tua, remaja dan anak anak, buruh, petani, dokter, wartawan, pejabat, selebritas, kaya ataupun miskin.
Advokasi bersama untuk masyarakat yang tak bisa menyuarakan kebutuhannya sangat diperlukan, utamanya untuk membuka akses universal terhadap pengobatan, pencegahan dan dukungan. Perlu perjuangan untuk menegakkan keadilan sosial dan mendistribusikan sumber daya.
Zubairi Djoerban Manajer Pusat Layanan HIV Terpadu RSCM; Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia
Pendakian Gn. Gede Pangrango
Saat pagi yang cerah, mempersiapkan diri untuk melakukan pendakian Gunung Gede Pangrango. Tim terdiri dari Dokter, Perawat, Kondelor dan ODHA.
Senyum Optimis selalu menyapa wajah-wajah mereka, meski perjalanan menuju Camp Kandang badak bisa di capai sekitar 8 Jam, namun semangat dan keceriaan selalu menghampiri seluruh tim pendakian.
Tiba di Panyangcangan sekitar pukul 09.00 tim melakukan istirahat sekitar
30 menit untuk menarik nafas dan menyiapkan tenaga untuk melakukan pendakian selanjutnya. meski dalam keadaan yang melelahkan, temen-temen tetap asyik bercanda bisa menikmati pemandangan alam gede pangrango yang indah.
Akhirnya kami sampai di camp kandang badak. tim bercamping dan menginap untuk melepaskan lelah setelah seharian melakukan pendakian untuk menghimpun tenaga besok menuju puncak Gede.
Nampak beberapa tenda terpasang di sekitar Kandang Badak. ada beberapa tim pendakian yang datang dari berbagai daerah seperti Bandung, bogor, Jakarta, cianjur, bahkan ada yang sengaja dari luar jawa yang ingin menikmati petualangan di Gunung Gede Pangrango.
akhirnya kita hampir samapi di puncak gede, pemandangan yang indah bisa kami nikmati. perjalanan yang panjang melelahklan seolah hilang setelah melihat pemandangan di atas gunung gede yang luar biasa.
Anda musti mencoba…..
Menjamu Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan datang menghampiri kita setelah sebelas bulan dia diperintahkan untuk mengunjungi hamba-hamba Allah yang senantiasa gigih dan istikamah melaksanakan ibadah kepada Allah.
Bersyukurlah kepada Allah yang masih memberikan nikmat kesehatan, sehingga kita masih bisa melaksanakan berbagai rutinitas ibadah mengumpulkan pundi-pundi pahala dari setiap amal kebaikan untuk kita raih di kemudian hari. Sungguh betapa banyak hamba-hamba Allah yang merindukan ibadah di bulan Ramadhan, tapi mereka sudah terbungkus kain kafan terbaring di dalam tanah. Sungguh banyak hamba-hamba Allah yang ingin merasakan nikmatnya shalat tarawih berjamaah, tapi mereka terbaring di rumah sakit. Dan, alangkah celakanya orang yang diberikan kesehatan tapi dia tidak diberikan kerinduan dan harapan untuk bisa melaksanakan berbagai ibadah di bulan Ramadhan.
Seandainya kita memiliki kerabat atau sahabat yang kita rindukan kemudian dia pergi sebelas bulan lamanya, tiba waktunya dia akan kembali dan berkumpul bersama kita, maka pasti berbagai persiapan akan kita lakukan untuk menyambutnya. Begitupula bulan Ramadhan sebagai tamu yang agung bagi setiap muslim, maka sungguh setiap muslim akan mempersiapkan penyambutan terbaik untuk menyambutnya.
Oleh karena itu Nabi menganjurkan untuk berdoa “Allahuma Bariklana fi rajab wa sya’ban wa ballighna Ramadhan” (Ya Allah Ya Tuhan kami, anugerahkanlah keberkatan untuk kami pada Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami Ya Allah hingga Ramadhan (yakni panjangkan umur kami Ya Allah sehingga kami dapat bertemu dengan Ramadhan).
Dalam doa tersebut kita mengharapkan mendapat berkah pada bulan Rajab dan Sya’ban tiada lain agar kita sampai pada bulan Ramadhan dalam keadaan penuh berkah. Agar kita tidak menjadi orang-orang yang rugi karena tidak mendapat ampunan dari Allah SWT dan tidak masuk surga melalaui pintu ar Rayyan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Mudah-mudahan kita menjadi bagian dari yang melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, sehingga kita mendapatkan anugerah yang paling agung yaitu bertemu dengan Allah Swt. Amin
Terus Meningkat, Penderita HIV/AIDS dan TBC
JAKARTA (Pos Kota) – Infeksi tuberculosis (TBC) pada penderita AIDS (acquired immune deficiency syndrome) dan pengidap HIV dipastikan terus meningkat.
Hingga kini sudah 70 persen pengidap human imunnodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS telah tertular TBC.
“Pengidap HIV mudah tertular TBC karena virus tersebut menyebabkan daya tahan tubuh pengidapnya melemah. Akibatnya berbagai infeksi penyerta atau infeksi oportunis mudah menjangkiti, termasuk di antaranya TBC yang merupakan penyebab kematian tertinggi di kalangan penderita AIDS,” tutur Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih usai membuka Kongres Nasional Tuberculosis di Hotel Merlynn Park Jakarta, kemarin.
Menurut Menkes, multiple drug resistant tuberculosis (MDR-TBC) juga menjadi ancaman berikutnya karena lebih sulit diobati dibandingkan TBC pada umumnya. Jika TBC biasa hanya butuh pengobatan rutin selama 6 bulan, MDR-TBC butuh pengobatan lebih lama antara 12-18 bulan.
Dengan pengobatan rutin selama 6 bulan saja, pasien kadang-kadang tidak patuh sehingga pengobatannya tidak tuntas dan penyakitnya tidak sembuh. Dikhawatirkan dengan durasi pengobatan yang lebih panjang, pasien makin tidak patuh karena merasa bosan minum obat.
Mengenai jumlah penderita, Menkes mengatakan Indonesia sudah bisa menurunkannya meski belum mencapai target 221/100.000 penduduk dan masih menyumbang 6 persen jumlah kasus TBC sedunia. Menkes berdalih, angkanya masih tetap tinggi karena jumlah penduduknya memang sangat besar dan kemiskinan masih menggelayuti.
