You are currently browsing the monthly archive for September, 2008.

Acara Buka Puasa Bareng Alumni JIPER`s  dan mahasiswa JIP-UIN merupakan satu-satunya program yang belum pernah dilakukan oleh mahasiswa dari jurusan maupun fakultas manapun di UIN jakarta. acara ini patut mendapat apresiasi yang tinggi mengingat acara yang dilaksanakan ini hanya butuh waktu 2 minggu dan itupun dengan koordinasi yang super tergesa-gesa melalui media mailing list yang dirintis oleh sdri. rizki yang dibantu oleh beberapa kawan-kawan termasuk saya. Meski ada kekhawatiran bahwa yang bakalan hadir hanya beberapa mahasiswa dan alumni saja, tapi ternyata diluar dugaan hampir 50% dari perwakilan setiap angkatan bisa hadir. tidak lupa apresiasi yang tinggi untuk panitia BEM-JIP UIN yang bersedia memfasilitasi acara ini dan gawe bareng beberapa kordinator setiap angkatan yang antusias menyambut acara ini. meskipun ditengah kesibukan dan pekerjaan namun mereka tetap menyempatkan diri hadir di acara ini. acara ini semakin meriah dengan kesediaan orang tua sekaligus guru kita Kajur dan sekjur didampingi beberapa dosen yang menyempatkan hadir, mudah2an pertemuan ini bukan semata ceremonial akan tetapi ada sebuah harapan besar bagi dosen, alumni dan mahasiswa pada khususnya untuk terus mengikat silaturahmi terutama pengembangan sumber daya mahasiswa dan alumni yang semakin hari-semakin memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Tak ada kata yang paling indah selain rasa syukur akhirnya acara ini telah melahirkan sebuah ikatan alumni yang bisa menjembatani mahasiswa, alumi dan dosen. tapi yang terpenting para alumni dan mahasiswa dapat meneruskan pengabdian dan pegembangannya di masyarakat sekitarnya dan tetap tidak melupakan almamaternya sendiri.

saya berharap dalam beberapa waktu ke depan beberapa gagasan yang membangun dapat kita tampung bersama dan tradisi buka puasa bersama dapat terus dilakukan dengan format yang lebih menarik dan membangun. sebagai catatan akhir bahwa buka puasa bersama di Ruang teater Fak. Adab dan Humaniora lt.4 sabtu, 20 September 2008 merupakan sejarah yang tidak mungkin saya lupakan.

Teman terbaik adalah teman ketika kita duduk bersama disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun dan ketika harus berpisah dengannya, terasa seolah hal tersebut merupakan percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama-sama.
Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal tersebut menghampiri kita. kita menginginkan sesuatu sesuai dengan kemauan kita. apa yang kita harapkan tak selalu sama dengan apa yang kita dapatkan.
Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan, karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan. Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula. Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancur-kan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan… sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah.
Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir bagaimana menciptakan semua hal menjadi terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam hidupnya.
Cinta dimulai dengan sebuah senyuman dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita adalah orang yang menangis, sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia. Ketika kita meninggalkan hidup, maka kita adalah pihak yang tersenyum bahagia. sementara orang disekeliling kita menangis.

Islam secara khas mengajarkan kepada kita cara bagaimana memandang segala sesuatu dengan menggunakan dua sisi pandang. Pertama, sisi dimana obyek itu kita pandang wujud lahirnya. Sebut saja dengan sudut pandang lahiriah. Sudut pandang lahiriah bertumpu kepada sosok fisik dan materi obyek tersebut. kedua, sisi di mana kita memandang sesuatu jauh melampaui batas lahiriyah. Sebut saja dengan sudut pandang ruhiyah. Karena ia menggunakan kekuatan ruhiyah, kebersihan nurani, ketajaman iman, sebagai kacamatanya.
Sebagai contoh, bila kita Melihat air hujan dengan sudut pandang lahiriah artinya kita menyaksikan proses turunnya air dari langit. Yang menurut teori adalah akibat embun-embun yang membeku dari uap air laut. Akan tetapi bila memandangnya dari sudut ruhiyah, artinya kita memandang hujan sebagai wujud dari taqdir Allah, yang menurunkan hujan atas kehendak-Nya.
Memandang kesuksesan berbisnis dengan kacamata lahiriyah artinya kita menilai kesuksesan itu karena jerih payah kita, keringat dan kerja keras kita. Sedang memandangnya dengan sudut pandang ruhiyah, artinya kita meyakini kesuksesan itu sebagai karunia Allah, ujian, sekaligus bukti kekuasaan Allah.
Lalu, ada pertanyaan dalam benak kita, Apakah berarti sisi ruhiyah menafikkan sisi lahiriyah? Tidak. Justru sisi pandang ruhiyah memberi tempat terhormat kepada sisi-sisi lahiriyah yang sifatnya teknis dan materi. Islam menegaskan bahwa yang menyembuhkan penyakit hanyalah Allah. Tetapi Islam mewajibkan seorang muslim yang sakit untuk berusaha dan berobat. Islam mengajarkan bahwa yang memberi rezeki hanyalah Allah, tetapi ia menyuruh manusia bekerja dan amat membenci meminta-minta.

Salah satu cara mengasah sudut pandang ruhiyah, seperti diisyaratkan Al-Qur’an adalah dengan menggunakan prinsip ‘logika terbalik’. Maksudnya, kita senantiasa membiasakan diri untuk selalu mencari hikmah tersembunyi di balik segala hal. Beberapa contoh berikut adalah hal-hal yang oleh Al-Qur’an dijabarkan secara terbalik.
1. Logika perang.
Allah mewajibkan umat Islam untuk berjihad dan berperang di jalan-Nya. Dengan kacamata lahiriyah, perang artinya mempertaruhkan nyawa, mencari kematian. Tapi dengan logika terbalik Allah menjelaskan, “Diwajibkan atas kamu berperang padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,” (Qs. Al-Baqarah: 216). Karenanya, Ia menegaskan ”Dan janganlah kamu mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Mereka hidup dan mendapat rezeki di sisi Rabb-Nya.” (Qs. At-Taubah: 111), “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 249)

2. Logika rumah tangga.
Membangun rumah tangga tidaklah mudah. Semua yang ada di dunia ini pasti ada kurangnya. Karenanya, Allah menyuruh kita untuk menggunakan logika terbalik, khususnya bila merasa ada yang tidak disuka dari pasangan kita. “Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An-Nisa’: 19).

3. Logika Kesulitan.
Banyak kesulitan dalam hidup ini. Banyak pula manusia yang gagal karenanya. Tak ada perjalanan hidup yang seratus persen mulus. Tetapi Allah menegaskan bahwa di dalam kesulitan itu ada unsur-unsur kemudahan. Ia bahkan tidak mengatakan “Sesudah kesulitan ada kemudahan” tapi “Sungguh, beserta kesulitan ada kemudahan.” (Qs. Al-Insyirah: 5 – 6) Ayat itu diulang dua kali. Dengan menggunakan logika terbalik seperti itu, kita bisa menghayati dan merasakan, bahwa unsur-unsur yang ada pada kesulitan itu pada saat yang sama ada yang menjadi simpul-simpul jalan bagi kemudahan yang datang menyertainya.

4. Logika Infak.
Berinfak mengeluarkan sebagian harta artinya secara dzahir mengurangi uang kita. Tapi Allah mengajarkan kita untuk memandangnya dengan logika terbalik. Memang uang itu pindah dari tangan kita. Tapi pada hakekatnya ia dibelanjakan di jalan Allah. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang manafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: sertaus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Qs Al-Baqarah: 261)

5. Logika rezeki.
Usaha keras untuk mencari karunia Allah yang halal sangat dianjurkan. Pekerjaan apapun yang penting halal, berapapun hasilnya jauh lebih disukai Allah dan Rasul-Nya ketimbang meminta-minta. Tapi Allah juga mengingat kan kepada kita untuk selalu menggunakan logika ruhiyah. Bahwa yang utama adalah hubungan kita dengan Allah, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. “(Qs. At-Thalaq: 2-3) ”Dan barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya akan dijadikan segala urusannya itu mudah.” (Qs. At-Thalaq: 4) Para ulama menafsirkan, yang dimaksud tak disangka itu bisa jumlahnya, atau sumbernya yang tidak pernah kita sangka-sangka.

6. Logika kehidupan dunia.
Yang lebih besar dari semua itu adalah soal dunia ini. Dunia dan perhiasannya adalah hamparan karunia Allah SWT. Allah juga menjadikan hati manusia cenderung kepada isi dunia. Kepada wanita, anak-anak, emas dan perak, kuda-kuda pilihan, serta sawah ladang. Tapi Al-Qur’an menjelaskan tentang logika terbalikyang harus diamalkan seorang mukmin. Bahwa itu semua hanyalah kesenangan dunia belaka. “Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik. Katakanlah, maukah kamu aku beritahu yang lebih dari itu semua, Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga-surga, mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah.” (Qs. Ali Imran: 14-15).

Manusia adalah makhluk yang lemah. Dia butuh pegangan yang kuat. Karena perjalanan dunia ini tidak datar. Kekuatan yang dimiliki hanya sebatas usaha yang sama sekali tidak menentukan. Banyak perkiraan dan rencana matang yang meleset. Karena memang di balik ini semua ada kekuatan Dzat Maha kuat yang menentukan. Kita membutuhkan Allah SWT di saat keadaan sedang stabil. Bahkan ketika keadaan sedang sulit dan tidak bersahabat pun kita lebih butuh Allah. Apalagi kalau orang di kanan kiri kita yang biasa membantu memberikan solusi tidak lagi bisa diharapkan, karena mereka juga manusia yanq sangat terbatas seperti kita.
Dalam keadaan seperti ini, tidak ada jalan lain kecuali kita “melangit“ mencari solusi di sana. Pintu solusi dari langit akan selalu dibuka selama kita membuka pintu hati kita untuk menerima keputusan Allah.
Maha suci Allah, Dia berbeda dengan makhiuk. Semakin banyak permasalahan yang kita keluhkan, semakin banyak permintaan yang kita ajukan, semakin Allah menyukai kita.
Penyerahan diri kepada Allah akan melahirkan kekuatan untuk menghadapi segala permasalahan. “Barang siapa yang ingin menjadi manusia yang paling kuat, maka bertawakal-lah,” begitu sabda Rasulullah.
Tawakal ini sekaligus akan mendatangkan ketenangan. Ketenangan karena kita sadari bahwa kesulitan yang mendera, adalah bagian dari “skenario” Ilahi. Ketenangan karena Allah tempat kita bersandar, di tangan-Nyalah terdapat solusi.
Begitulah, sudut pandang seorang mukmin terhadap segala hal seharusnya tidak terpaku pada sisi-sisi lahiriyah, justru yang utama adalah sudut pandang ruhiyah. Dengan itulah kita meyakini bahwa akan selalu ada hikmah di balik segala hal. Selalu ada kekuasan Allah di balik segala peristiwa. Bahwa segala yang diberikan Allah adalah baik bagi kita. Keyakinan itu akan memberi kita tingkat ketenangan yang tinggi, karena Allah akan selalu membela dan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.

Katakanlah, ”Siapakah yang dapat melindungi kamu dari takdir Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh pelindung dan penolong selain Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 17).

Setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi ini, entah itu bencana maupun rahmat, disikapi dengan berbeda-beda antara orang satu dan lainnya. Banyak yang mengeluh, tapi tak kurang juga yang bersyukur. Paling tidak ada tiga sikap yang selayaknya dijalani, bukan sebagian, tapi semuanya. Pertama, mempercayai bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah. Ketika hal ini yang kita lakukan, semestinya tidak ada lagi keluhan dan protes.

Sekaligus mengukuhkan keimanan dengan percaya pada qada dan qadar. Takdir Allah adalah apa yang terjadi terhadap tiap-tiap manusia yang telah ditulis di Lauhul Mahfudz. Sikap mempercayai kejadian sebagai takdir dari Allah SWT, sebaiknya diteruskan dengan sikap kedua.

Yakni, mengambil hikmah kejadian. Allah SAW bersabda, ”Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil hikmah (pelajaran).” (QS Al-Mu’min [40]: 58).

Setiap kejadian, selain takdir, pasti mempunyai hikmah. Ketika kita kalah dalam kompetisi sebuah jabatan, misalnya, selain takdir, kita harus bisa mengambil hikmah dari semuanya. Ketika kalah, kita bisa lebih mengingat Allah SWT. Ketika kalah, sesungguhnya kita diselamatkan Allah dari banyak masalah yang bakal kita terima ketika menang. Sungguh Allah telah menyiapkan berbagai hikmah kehidupan, bagi orang-orang yang berpikir.

Ketiga, melakukan pembelajaran. Sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, kita bisa mengevaluasi apakah ’strategi’ hidup kita sudah benar? Seluruh pertanyaan tersebut harus dijawab dengan jujur untuk pembelajaran dan perubahan. Bukankah Allah telah berjanji.

”…. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d [13]:11). Wallahu a’lam bish-shawab.

Seorang muslim yang bertakwa tentu memahami arti keimanan dengan baik, karena untuk mencapai derajat ketakwaan seseorang harus beriman terlebih dahulu sebagaimana salah satu perkataan Allah SWT pada ayat Al Qur’an berikut ini : “Hai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah 183)

Lalu mengapa seseorang harus bertakwa kepada Allah SWT ?
“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)

Jadi pada intinya Allah SWT menyuruh kaum muslimin beramal shalih setelah beriman adalah dimaksudkan agar kaum muslimin dapat bersyukur kepada-Nya terutama atas nikmat-Nya yang sangat banyak. Maka dari itu kekokohan iman seorang muslim merupakan prasyarat mutlak dalam beramal shalih, agar amal shalih tersebut dapat berbuah ketakwaan kepada Allah SWT.

Definisi iman itu sendiri dapat dilihat pada hadits shahih berikut ini, dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim)

Salah satu cabang keimanan yang utama berdasarkan nash shahih di atas adalah bahwa beriman kepada takdir (qadar) yang Allah SWT telah tetapkan kepada setiap hamba baik itu takdir baik maupun takdir buruk. Firman Allah SWT, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di Bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya” (QS Al Hadid 22)

Dan dari ayat di atas jelas Allah SWT katakan bahwa takdir yang Allah SWT berikan kepada setiap hambanya sudah ditentukan sebelum Allah SWT menciptakan langit dan Bumi sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“Allah telah menulis (di Lauhu Mahfuzh) segenap takdir makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim)

Termasuk apakah ia menjadi ahli surga atau neraka, Allah SWT sudah tentukan 50.000 tahun sebelum alam semesta ini diciptakan. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda, “Maka demi Allah, yang tiada tuhan yang haq disembah melainkan Dia, sesungguhnya seseorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia mengerjakan perbuatan ahli neraka, maka ia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya salah seorang diantara kamu beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali sehasta, namun telah terdahulu ketentuan (takdir) Tuhan atasnya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia masuk ke dalamnya” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Pada hadits lain Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya, apakah ia termasuk penduduk neraka atau penduduk surga” (HR. Imam Bukhari)

Maka dari itu Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (239 – 321 H) pada kitabnya Al Aqidah Ath Thahawiyah yang diberi ta’liq (komentar) oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan, “Semenjak dahulu kala Allah Ta’ala telah mengetahui berapa jumlah hamba-Nya yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka. Total dari jumlah itu tidak akan bertambah dan tidak akan pula berkurang”

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani memberikan komentar atas ucapan Imam Abu Ja’far Ath Thahawi ini sebagai berikut, “Nampaknya Imam Ath Thahawi merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru, dia berkata, ‘Pernah suatu ketika Rasulullah SAW keluar menemui kami memegang 2 kitab … Kemudian sambil menunjuk kitab yang ada di tangan kanan, Beliau SAW berkata, Kitab ini berasal dari Tuhan Semesta Alam yang memuat nama – nama penduduk surga yang dilengkapi nama bapak – bapak dan nama – nama kabilah mereka. Kemudian Allah mengumpulkan mereka menjadi satu (dalam kitab ini). Jumlah nama – nama yang ada dalam kitab ini tidak akan bertambah maupun berkurang selama – lamanya … – hadits ini cukup panjang – … (HR. At Tirmidzi, hadits ini dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani)’”

Namun demikian, tidak ada seorangpun tahu apakah ia menjadi ahli surga atau ahli neraka karena hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui perkara – perkara yang ghaib. Firman Allah SWT, “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml 65)

Artinya walaupun seorang manusia apakah nanti takdirnya masuk ke dalam surga atau ke dalam neraka maka ia sebagai seorang hamba Allah wajib selalu berusaha mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala dan selalu meminta agar dimasukan ke dalam surga-Nya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang – orang yang bertakwa” (QS Al Imran 133)

Dan tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah SWT walaupun hanya sebentar, “Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS Yusuf 87)

Juga dengan beriman kepada takdir Allah tidaklah berarti memberikan kesempatan kepada hamba untuk berdalih dengannya dalam meninggalkan perintah Allah atau melanggar apa yang dilarang-Nya. Karena Allah SWT berfirman, “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” (QS At Taghabun 16), yang artinya seorang hamba tidak akan dibebani kecuali sebatas kemampuannya. Dan sabda Rasulullah SAW,“Tidaklah salah seorang dari kamu melainkan telah dituliskan tempat duduknya, apakah ia termasuk penduduk neraka atau penduduk surga”.

Maka berkatalah seorang laki – laki dari kaumnya, “TidakKah (dengan demikian) kita berserah diri saja, wahai Rasulullah ?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, tetapi berusahalah ! Karena masing-masing dimudahkan kepada (kententuan) penciptaannya” (HR. Imam Bukhari)

Akhirnya dapat difahami bahwa hakekat takdir adalah rahasia Allah Ta’ala yang telah ditentukan atas hambanya sebelum Allah SWT menciptakan seluruh isi langit dan Bumi dan sebagai manusia maka wajib bagi kita untuk selalu berusaha mencapai ketakwaan kepada Allah SWT, karena pada hakekatnya Allah SWT tidak membebani kewajiban yang mana kita tidak sanggup untuk memikulnya.

Dan takdir itu sendiri tidaklah diketahui oleh malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun oleh Nabi yang diutus karena Allah SWT telah menutup ilmu takdir dari makhluk – makhluk-Nya sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab-Nya, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (Al Anbiya’ 23)

Sumber : disusun oleh oleh : Abu Tauam Al Khalafy, dari berbagai sumber :

1. 40 Hadits Shahih, Imam An Nawawi, Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.

2. Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, At Tibyan, Solo, Edisi Indonesia, November 2000 M.

3. Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, Cetakan Pertama, Mei 2005 M

4. Tauhid, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H

Calender

September 2008
M T W T F S S
« Jun   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

RSS KOMPAS.com

Recent Comments

    Blog Stats

    • 715 hits

    Pengunjung

    Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

    Flickr Photos

    More Photos