You are currently browsing the daily archive for September 16th, 2008.
Teman terbaik adalah teman ketika kita duduk bersama disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun dan ketika harus berpisah dengannya, terasa seolah hal tersebut merupakan percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama-sama.
Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal tersebut menghampiri kita. kita menginginkan sesuatu sesuai dengan kemauan kita. apa yang kita harapkan tak selalu sama dengan apa yang kita dapatkan.
Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan, karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan. Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula. Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancur-kan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan… sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah.
Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir bagaimana menciptakan semua hal menjadi terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam hidupnya.
Cinta dimulai dengan sebuah senyuman dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita adalah orang yang menangis, sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia. Ketika kita meninggalkan hidup, maka kita adalah pihak yang tersenyum bahagia. sementara orang disekeliling kita menangis.
Islam secara khas mengajarkan kepada kita cara bagaimana memandang segala sesuatu dengan menggunakan dua sisi pandang. Pertama, sisi dimana obyek itu kita pandang wujud lahirnya. Sebut saja dengan sudut pandang lahiriah. Sudut pandang lahiriah bertumpu kepada sosok fisik dan materi obyek tersebut. kedua, sisi di mana kita memandang sesuatu jauh melampaui batas lahiriyah. Sebut saja dengan sudut pandang ruhiyah. Karena ia menggunakan kekuatan ruhiyah, kebersihan nurani, ketajaman iman, sebagai kacamatanya.
Sebagai contoh, bila kita Melihat air hujan dengan sudut pandang lahiriah artinya kita menyaksikan proses turunnya air dari langit. Yang menurut teori adalah akibat embun-embun yang membeku dari uap air laut. Akan tetapi bila memandangnya dari sudut ruhiyah, artinya kita memandang hujan sebagai wujud dari taqdir Allah, yang menurunkan hujan atas kehendak-Nya.
Memandang kesuksesan berbisnis dengan kacamata lahiriyah artinya kita menilai kesuksesan itu karena jerih payah kita, keringat dan kerja keras kita. Sedang memandangnya dengan sudut pandang ruhiyah, artinya kita meyakini kesuksesan itu sebagai karunia Allah, ujian, sekaligus bukti kekuasaan Allah.
Lalu, ada pertanyaan dalam benak kita, Apakah berarti sisi ruhiyah menafikkan sisi lahiriyah? Tidak. Justru sisi pandang ruhiyah memberi tempat terhormat kepada sisi-sisi lahiriyah yang sifatnya teknis dan materi. Islam menegaskan bahwa yang menyembuhkan penyakit hanyalah Allah. Tetapi Islam mewajibkan seorang muslim yang sakit untuk berusaha dan berobat. Islam mengajarkan bahwa yang memberi rezeki hanyalah Allah, tetapi ia menyuruh manusia bekerja dan amat membenci meminta-minta.
Salah satu cara mengasah sudut pandang ruhiyah, seperti diisyaratkan Al-Qur’an adalah dengan menggunakan prinsip ‘logika terbalik’. Maksudnya, kita senantiasa membiasakan diri untuk selalu mencari hikmah tersembunyi di balik segala hal. Beberapa contoh berikut adalah hal-hal yang oleh Al-Qur’an dijabarkan secara terbalik.
1. Logika perang.
Allah mewajibkan umat Islam untuk berjihad dan berperang di jalan-Nya. Dengan kacamata lahiriyah, perang artinya mempertaruhkan nyawa, mencari kematian. Tapi dengan logika terbalik Allah menjelaskan, “Diwajibkan atas kamu berperang padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,” (Qs. Al-Baqarah: 216). Karenanya, Ia menegaskan ”Dan janganlah kamu mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Mereka hidup dan mendapat rezeki di sisi Rabb-Nya.” (Qs. At-Taubah: 111), “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 249)
2. Logika rumah tangga.
Membangun rumah tangga tidaklah mudah. Semua yang ada di dunia ini pasti ada kurangnya. Karenanya, Allah menyuruh kita untuk menggunakan logika terbalik, khususnya bila merasa ada yang tidak disuka dari pasangan kita. “Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An-Nisa’: 19).
3. Logika Kesulitan.
Banyak kesulitan dalam hidup ini. Banyak pula manusia yang gagal karenanya. Tak ada perjalanan hidup yang seratus persen mulus. Tetapi Allah menegaskan bahwa di dalam kesulitan itu ada unsur-unsur kemudahan. Ia bahkan tidak mengatakan “Sesudah kesulitan ada kemudahan” tapi “Sungguh, beserta kesulitan ada kemudahan.” (Qs. Al-Insyirah: 5 – 6) Ayat itu diulang dua kali. Dengan menggunakan logika terbalik seperti itu, kita bisa menghayati dan merasakan, bahwa unsur-unsur yang ada pada kesulitan itu pada saat yang sama ada yang menjadi simpul-simpul jalan bagi kemudahan yang datang menyertainya.
4. Logika Infak.
Berinfak mengeluarkan sebagian harta artinya secara dzahir mengurangi uang kita. Tapi Allah mengajarkan kita untuk memandangnya dengan logika terbalik. Memang uang itu pindah dari tangan kita. Tapi pada hakekatnya ia dibelanjakan di jalan Allah. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang manafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: sertaus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Qs Al-Baqarah: 261)
5. Logika rezeki.
Usaha keras untuk mencari karunia Allah yang halal sangat dianjurkan. Pekerjaan apapun yang penting halal, berapapun hasilnya jauh lebih disukai Allah dan Rasul-Nya ketimbang meminta-minta. Tapi Allah juga mengingat kan kepada kita untuk selalu menggunakan logika ruhiyah. Bahwa yang utama adalah hubungan kita dengan Allah, “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. “(Qs. At-Thalaq: 2-3) ”Dan barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya akan dijadikan segala urusannya itu mudah.” (Qs. At-Thalaq: 4) Para ulama menafsirkan, yang dimaksud tak disangka itu bisa jumlahnya, atau sumbernya yang tidak pernah kita sangka-sangka.
6. Logika kehidupan dunia.
Yang lebih besar dari semua itu adalah soal dunia ini. Dunia dan perhiasannya adalah hamparan karunia Allah SWT. Allah juga menjadikan hati manusia cenderung kepada isi dunia. Kepada wanita, anak-anak, emas dan perak, kuda-kuda pilihan, serta sawah ladang. Tapi Al-Qur’an menjelaskan tentang logika terbalikyang harus diamalkan seorang mukmin. Bahwa itu semua hanyalah kesenangan dunia belaka. “Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik. Katakanlah, maukah kamu aku beritahu yang lebih dari itu semua, Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga-surga, mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah.” (Qs. Ali Imran: 14-15).
Manusia adalah makhluk yang lemah. Dia butuh pegangan yang kuat. Karena perjalanan dunia ini tidak datar. Kekuatan yang dimiliki hanya sebatas usaha yang sama sekali tidak menentukan. Banyak perkiraan dan rencana matang yang meleset. Karena memang di balik ini semua ada kekuatan Dzat Maha kuat yang menentukan. Kita membutuhkan Allah SWT di saat keadaan sedang stabil. Bahkan ketika keadaan sedang sulit dan tidak bersahabat pun kita lebih butuh Allah. Apalagi kalau orang di kanan kiri kita yang biasa membantu memberikan solusi tidak lagi bisa diharapkan, karena mereka juga manusia yanq sangat terbatas seperti kita.
Dalam keadaan seperti ini, tidak ada jalan lain kecuali kita “melangit“ mencari solusi di sana. Pintu solusi dari langit akan selalu dibuka selama kita membuka pintu hati kita untuk menerima keputusan Allah.
Maha suci Allah, Dia berbeda dengan makhiuk. Semakin banyak permasalahan yang kita keluhkan, semakin banyak permintaan yang kita ajukan, semakin Allah menyukai kita.
Penyerahan diri kepada Allah akan melahirkan kekuatan untuk menghadapi segala permasalahan. “Barang siapa yang ingin menjadi manusia yang paling kuat, maka bertawakal-lah,” begitu sabda Rasulullah.
Tawakal ini sekaligus akan mendatangkan ketenangan. Ketenangan karena kita sadari bahwa kesulitan yang mendera, adalah bagian dari “skenario” Ilahi. Ketenangan karena Allah tempat kita bersandar, di tangan-Nyalah terdapat solusi.
Begitulah, sudut pandang seorang mukmin terhadap segala hal seharusnya tidak terpaku pada sisi-sisi lahiriyah, justru yang utama adalah sudut pandang ruhiyah. Dengan itulah kita meyakini bahwa akan selalu ada hikmah di balik segala hal. Selalu ada kekuasan Allah di balik segala peristiwa. Bahwa segala yang diberikan Allah adalah baik bagi kita. Keyakinan itu akan memberi kita tingkat ketenangan yang tinggi, karena Allah akan selalu membela dan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.


Recent Comments