You are currently browsing the category archive for the 'dunia pendidikan' category.
Pada 1992, laporan bank dunia yang mengacu pada kajian IAEA ( International Association for the Evaluation for education Achievement ) di kawasa asia timur telah menyebutkan rendahnya mutu pendidikan kita. Yaitu dalam keterampilan membaca. Murid kelas 4 SD indonesia menempati paling rendah dengan skor tes 51,7; lebih rendah jika dibandingkan dengan skor tes anak-anak hongkong 75,5, singapore 74,0 dan thailand 65,1. yang dekat nasibnya dengan anak-anak indonesia adalah filipina 52,6. Anak kita ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan sulit sekali menjawab soal-soal dalam bentuk uraian yang menuntut kegiatan penalaran. Namun, demikian tidak sepenuhnya menyalahkan anak-anak kita karena rendahnya mutu pendidikan Indonesia, ada faktor lain yang mengakibatkan rendahnya kualitas generasi kita diantaranya anak tidak diberi kebebasan untuk mengembangkan kreatifitas dan kemampuannya. sistem pendidikan kita yang sentralistik hanya menghasilkan sistem pendidikan yang diwarnai “penyeragaman” dalam segala hal. Bukan hanya pakaian, sepatu, buku pelajaran, kurikulum dan metode belajar dan mengajar yang seragam tetapi cara berfikir siswa pun dibuat seragam. Guru terlalu disibukkan dengan urusan administratif sehingga “kehilangan waktu” dalam membimbing anak didiknya. Tradisi BACA Gagasan mengenai budaya membaca mengingatkan pada seorang Bobby seorang yang kemudian hari dikenal seorang ilmuan biologi terkemuka. Bobby kecil yang bernama lengkap Bobby Garfield ketika berulang tahun ke 11 seperti sesama anak laki-laki seusianya, ia mendambakan sebuah sepeda sebagai hadiah dari sang ibu. Namun, sayang sungguh sayang, almarhum ayahnya yang semasa hidupnya menghabiskan waktu bermain foker, hanya meninggalkan warisan sejumlah hutang yang musti dibayar ibunya. dan polis asuransi kadaluarsa. Otomatis sang ibu menjadi seorang single parent Cuma bisa bekerja sebagai staf kesekretariatan di sebuah badan usaha. Ia hanya mampu menghadiahi Bobby kecil sebuah kartu perpustakaan dewasa yang di United States dapat dipakai untuk meminjam buku pustaka secara leluasa dan gratis. Dirumah kontrakan 2 lantai tersebut datanglah Ted. Konon ia adalah seorang paranormal yang sedang di uber-uber kepolisian negara. Ted : kau dapat uang banyak dari hadiah ulang tahunmu ? Bobby : Tidak, sembari menyodorkan kartu perpustakaan pemberian ibunya. Ted : kau tau kenapa dia berikan itu ? Bobby : karena gratis ! Ted : tidak apa-apa. Jangan kau hilangkan kartu ini, buku itu adalah emas. Para penulis ulung telah menghibur kita selama berabad-abad memberikan setengah jam untuk buku. jika tidak suka, pilih buku yang lain. Kini para pendongeng ulung dunia sedang menantimu.
Pada perkembangan selanjutnya, Bobbi DePorter (penulis buku best seller Quantum Learning dan Quantum Teaching), murid Lozanov, dan Mike Hernacki, mantan guru dan penulis, mengembangkan konsep Lozanov menjadi Quantum Learning. Metode belajar ini diadopsi dari beberapa teori. Antara lain sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistik.
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Dalam Quantum Teaching bersandar pada konsep ‘Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
Dengan Quantum teaching kita dapat mengajar dengan memfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan pada fungsinya masing-masing. Penelitian di Universitas California mengungkapkan bahwa masing-masing otak tersebut mengendalikan aktivitas intelektual yang berbeda.
Otak kiri menangani angka, susunan, logika, organisasi, dan hal lain yang memerlukan pemikiran rasional, beralasan dengan pertimbangan yang deduktif dan analitis. Bgian otak ini yang digunakan berpikir mengenai hal-hal yang bersifat matematis dan ilmiah. Kita dapat memfokuskan diri pada garis dan rumus, dengan mengabaikan kepelikan tentang warna dan irama.
Otak kanan mengurusi masalah pemikiran yang abstrak dengan penuh imajinasi. Misalnya warna, ritme, musik, dan proses pemikiran lain yang memerlukan kreativitas, orisinalitas, daya cipta dan bakat artistik. Pemikiran otak kanan lebih santai, kurang terikat oleh parameter ilmiah dan matematis. Kita dapat melibatkan diri dengan segala rupa dan bentuk, warna-warni dan kelembutan, dan mengabaikan segala ukuran dan dimensi yang mengikat.


Recent Comments